Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Khomarul Hidayat

LANGSUNG. CO. ID – JAKARTA . Pandemi Covid-19 tentu berdampak dalam kinerja perbankan yang melambat. Untuk menghalau itu, perbankan pun terus melakukan berbagai upaya termasuk keefisienan.

Namun, tetap saja rasio beban operasional terhadap operasional alias BOPO perbankan meningkat. Dominasi Jasa Keuangan (OJK) mencatat, akhirusanah lalu BOPO perbankan ada dalam level 86, 55%, meningkat lantaran bulan November 2020 sebesar 86, 04%.

Rasio BOPO jauh meningkat dari masa 2019 yang sebesar 79, 58%. Meski begitu, sejumlah bankir dengan dihubungi Kontan. co. id menerangkan, upaya efisiensi terus dilakukan.

PT Bank Rakyat Nusantara Tbk (BRI) misalnya di kuartal III 2020 mencatat BOPO dalam level 81, 74%. Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto menyebut, BOPO BRI sampai saat tersebut masih berada di bawah sama industri.

Baca Juga: OJK: Tanpa produk kompetitif berbasis teknologi, bank bisa ditinggal nasabah

BRI memperkirakan, BOPO tahun ini akan jauh bertambah baik dari tahun lalu. “Perbaikan tersebut didukung oleh pemulihan pendapatan seiring melandainya tren restrukturisasi, ” katanya kepada Kontan. co. id, Rabu (27/1).

Keefisienan biaya dana alias cost of fund (COF) melalui peningkatan dana murah (CASA) yang dilakukan Bank BRI juga bisa menjadi jawaban kemerosotan BOPO ke depan. Aestika mengatakan, BRI bakal melakukan optimalisasi fee based income (FBI) di tahun tersebut melalui peningkatan digital dan micro payment, serta efisiensi biaya operasional melalui proses digitalisasi bisnis.

Sementara, PT BPD Sumatera Utara (Bank Sumut) menyebut, akal BOPO tahun 2020 mencapai 80, 22%. Sekretaris Perusahaan Bank Sumut Syahdan Siregar menuturkan, rasio BOPO tersebut sudah turun 16 asas poin dari periode 2019 dengan sebesar 80, 38%.

“Kami berusaha menekan rasio BOPO di antaranya dengan mengoptimalkan derma murah dan efisiensi sektor operasional, ” jelasnya. Nah, untuk dalam tahun ini, Bank Sumut meramalkan BOPO setidaknya akan terjaga dalam kisaran 80, 41%.

Sementara, rasio BOPO PT Bank Ina Perdana Tbk meningkat tahun lalu. Tapi, Direktur Bank Ina Daniel Budirahayu mengatakan, kenaikan BOPO itu sangat wajar. Mengingat risiko pasar yang meningkat, bank pula harus membentuk biaya pencadangan alias CKPN yang cukup signifikan.

“BOPO Bank Ina sedang di atas 90% karena saya banyak penambahan di CKPN untuk antisipasi keadaan memburuk, ” jelasnya. Nah, di tahun ini Daniel berusaha untuk menekan BOPO mematok ke bawah 90% dengan memajukan volume bisnis dan tentunya efisiensi di segala bidang.

PEMBERIAN, Dapat Voucer Gratis!

Dukungan Anda akan menambah watak kami untuk menyajikan artikel-artikel dengan berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Kamu, tersedia voucer gratis senilai derma yang bisa digunakan berbelanja dalam KONTAN Store.