Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S. S. Kurniawan

KONTAN. CO. ID – Laut China Selatan kembali memanas, setelah kapal perusak berpeluru kendali Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) USS Russell (DDG 59) berlayar di Kepulauan Spratly, yang China klaim jadi wilayahnya.

“USS Russell menegaskan hak navigasi dan kemandirian Kepulauan Spratly sesuai dengan hukum internasional, ” kata Armada Ketujuh Angkatan Laut AS dalam pernyataan tertulis, Rabu (17/2), di laman resminya.

Patuh mereka, operasi kebebasan navigasi tersebut menjunjung tinggi hak, kebebasan, & penggunaan yang sah atas bahar yang diakui dalam hukum global, dengan menantang pembatasan yang mengabaikan hukum atas “jalur tidak bersalah”.

“Klaim maritim dengan melanggar hukum dan luas di Laut China Selatan menimbulkan ancaman serius bagi kebebasan laut, tercatat kebebasan navigasi dan penerbangan, perniagaan bebas dan perdagangan tanpa larangan, dan kebebasan peluang ekonomi untuk negara-negara pesisir Laut China Daksina, ” sebut Armada Ketujuh Tentara Laut AS.

Rombongan AS, Armada Ketujuh mengungkapkan, beroperasi di Laut China Selatan di setiap hari. Mereka secara rutin beroperasi dalam koordinasi yang erat secara sekutu dan mitra yang memiliki komitmen yang sama untuk mendirikan tatanan internasional yang bebas serta terbuka.

Baca Juga: Sempat tegang di Laut China Daksina, China dan AS ikut latihan militer di Pakistan

“Semua operasi kami dirancang untuk dilakukan secara profesional dan sesuai hukum internasional, dan membuktikan Amerika Serikat akan terbang, berlayar, dan beroperasi di mana kendati hukum internasional mengizinkan, terlepas daripada lokasi klaim maritim yang berlebihan, ” ujar Armada Ketujuh.

Sebelumnya, kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke USS John S. McCain berlayar pada sekitar Kepulauan Paracel di Bahar China Selatan, yang juga China klaim sebagai wilayahnya.

Militer China langsung merespons, dengan memberi peringatan kepada kapal konflik AS yang berlayar di selat dekat dengan Kepulauan Paracel, yang China beri nama Kepulauan Xisha. Sementara untuk Kepulauan Spratly, China menyebutnya sebagai Kepulauan Nansha.

“Pada 5 Februari, pesawat perusak berpeluru kendali AS USS John S. McCain masuk minus izin ke perairan yang bersebelahan dengan Kepulauan Xisha China minus izin Pemerintah China, ” prawacana Kolonel Senior Tian Junli, pakar bicara Komando Teater Selatan Prajurit Pembebasan Rakyat (PLA) China.

“Dan, Angkatan Laut & Angkatan Udara Komando Teater Daksina PLA China melakukan pelacakan serta pemantauan seluruh proses terhadap kapal perusak AS dan memperingatkannya, ” ujarnya dalam pernyataan tertulis Jumat (5/1) di situs Kementerian Pertahanan China.